Cinta, Agama dan Akal
Seperti kata Plato, cinta adalah pencerahan. Artinya, pecinta mesti siap mencerahkan atau dicerahkan oleh kekasihnya. Dengan begitu, relasi cinta akan bercorak penyempurnaan, dan tersucikan dari nafsu. Sebab tak ada penyempurnaan tanpa pencerahan.
Tuhan begitu mencintai manusia. Dia pun ingin agar manusia menyempurna. Bohonglah mereka yang mengaku pecinta, tapi membiarkan kekasihnya tenggelam dalam ketidaksempurnaan.
Tuhan menganugrahkan dua Rasul pada manusia, sebagai wujud cinta-Nya. Dengan dua akal tersebut, manusia akan tercerahkan, mengenali jalan cinta menuju-Nya; sebuah jalan menuju kesempurnaan hakiki.
Dua rasul tersebut adalah rasul internal, yaitu akal, dan rasul eksternal yaitu para nabi dan agama. Tentu, sebelum diberikan para nabi dan agama, manusia terlebih dahulu diberikan akal. Ini logis, agar manusia beragama dengan akal; agama rasional. Tanpa akal, keberadaan nabi dan agama akan sia-sia. Olehnya, tidaklah menolak agama, kecuai mereka yang irasional.
Akal dan agama adalah dua pelita yang akan mengenalkan manusia jalan cinta yang sebenarnya. Jalan cinta yang akan menghantarkan manusia pada kesempurnaan hakiki, yaitu kedekatan pada Tuhan.
Tanpa keduanya atau menolak salah satunya, jalan cinta tak akan dikenali secara sempurna. Kata Mulla Sadra, bila akal dan agama bersanding, itulah cahaya di atas cahaya, nurun ala nur. Mulla Sadra mengibaratkan akal sebagai mata, dan agama sebagai cahaya matahari.
Dengan menutup mata, anda tak akan mampu melihat realitas, betapapun matahari bersinar dengan terangnya. Pun juga, tanpa adanya matahari, anda tidak akan melihat realitas, betapapun mata anda terbuka dengan melotot. Hanya dengan membuka mata di bawah sinar mentari, realitas akan tersaksikan.
Begitulah, dengan akal dan agama, jalan cinta akan tersingkap. Sekali lagi, bila akal dan agama bersanding, itulah cahaya di atas cahaya. Duhai pecinta, jangan berjalan tanpa cahaya, jangan meraba-raba dalam gelap.
#salamharmonisasi
#filsafatharmonisasi
Komentar
Posting Komentar