Postingan

SAJAK NEW NORMAL

  Sudah new normal kawan. Kapan kita berkumpul kembali. Duduk melingkar berbagi nalar. Di sepetak kamar yang belum dibayar Dengan coretan-coretan yang tak jelas. Kita hitamkan papan tulis putih yang sudah tampak menghitam. Papan tulis putih yang telah menghitam. Tulisan yang lebih mirip cakar ayam. Semua itu tak mengapa. Sebab ilmu adalah cahaya. Kapan kita berkumpul lagi kawan. Membincang manusia hingga Tuhan. Dengan perut-perut yang keroncongan. Dengan segelas kopi yang kita minum berdelapan. Dengan bau abu dan asap rokok yang menyesakkan. Dengan bau badanmu yang tak mandi seharian. Kita buka buku halaman perhalaman. Demi sebuah pencerahan. Sudah new normal kawan. Kapan kita berkumpul kembali. Merapatkan barisan-barisan suci. Turun ke jalan, menggelar aksi. Dengan berselimut panas mentari, kita susuri jalan tanpa anarki. Dengan bermandi peluh dan lelah, kita nyatakan keberpihakan pada kaum lemah . Dengan teriakan-teriakan, kita tanyakan kebijakan. Walau kadang mereka jawab dengan...

Tragedi Itu

  Tragedi itu Ketika kata-kata tak dipahami Atau salah dipahami Tragedi itu Ketika maksud baik tak bersambut baik Atau malah dituding tak baik Tragedi itu Ketika yang dibutuhkan tak ada Atau mungkin sengaja meniada Tragedi itu Ketika bersama terasa berpisah Tapi tak jua berani berpisah Tragedi itu Ketika sepi dalam ramai Atau ramai yang tak peduli Tragedi itu Tertawa karena tingkah konyol sang badut Sang badut yang sedih akan hidup yang makin rumit Tragedi itu Hidup bersama manusia Manusia tanpa kemanusiaan Tragedi itu Menikmati rezeki Tuhan Tuhan yang dilupakan Tragedi itu Berjalan dan terus berjalan Tapi tak tahu arah dan tujuan Tragedi itu Hidup rasa mati Atau mati dan tak pernah hidup Bahagia itu Karena sajak ini, kalian tersenyum Walau hidup, terasa runyam @aiskndrr #salamharmonisasi #filsafatharmonisasi

Sadar Diri dan Gerak Perfeksi

  Di tepi sungai, seeokor keledai berceramah tentang tata cara berenang pada sekumpulan ikan di dalam sungai. Di bawah pohon, keledai yang sama kembali berorasi, mengajarkan tata cara terbang pada sekawanan burung di atas pohon. Apa yang akan terjadi? Sampai kapanpun, keledai itu tidak akan bisa berenang, tidak akan bisa terbang. Mengapa demikian? Sebab keledai tak menyadari siapa dirinya, dan siapa di hadapannya. Mestinya, keledai itu lebih banyak bertanya kepada ikan dan burung, tentang ilmu renang dan terbang. Mestinya, keledai itu memuridkan dirinya di hadapan ikan dan burung, bukan justru menggurui keduanya. Pesannya apa? Gerak perfeksi diawali dari kesadaran diri. Sadar akan siapa/dan dimana level diri. Tanpa sadar diri, jangan berharap diri akan menyempurna. Bayangkan saja. Apa jadinya seorang jahil yang tak menyadari kejahilannya. Dia akan merasa ulama dan mengambil peran-peran keulamaan, berdiri di atas mimbar, ceramah dan terus ceramah. Apa jadinya seorang suami atau istr...

Ngaji Epistemologi Husuli dan Demokrasi

  Diketahui, ilmu husuli adalah ilmu yang tidak niscaya benar, tidak pula niscaya salah. Artinya, salah-benar adalah hal yang mungkin dalam ilmu husuli. Meski demikian, kadang pula ilmu husuli menjadi mustahil salah, dikarenakan beragam faktor (mumtani'un bilghoir) semisal badihi, argumentasi rasional, dan kesucian subjek. Jadi, ilmu husuli badihi adalah ilmu husuli yang niscaya benar. Juga, ilmu husuli yang bersandar pada argumentasi rasional, merupakan ilmu husuli yang niscaya benar. Begitu juga dengan ilmu husuli yang dimiliki oleh manusia-manusia suci, merupakan ilmu husuli yang niscaya benar. Beda halnya dengan ilmu husuli spekulatif (nazari) yang belum terbuktikan secara rasional, serta ilmu husuli manusia biasa seperti kita-kita ini, semuanya merupakan ilmu husuli yang mungkin benar, mungkin pula salah. Karena mungkin salah mungkin benar, maka ilmu husuli kita-kita ini mesti didialogkan, bukan dipaksakan. Mesti dievaluasi, bukan dianggap pasti. Karena itu pula, dalam ilmu hu...

Harimau dan Keledai

  Suatu ketika, keledai dan Harimau berdebat hebat ihwal warna rumput. Kata Keledai, "rumput itu berwarna merah", Kata Harimau, "bukan, rumput itu berwarna hijau!". Akhirnya, harimau dan keledai dihadapkan pada Singa si Raja Hutan untuk diadili. Setelah mendengar percakapan mereka berdua, Singa si raja hutan memutuskan, "penjarakan Harimau!". Harimau protes dan berkata, "bukankah aku benar bahwa rumput itu berwarna hijau?" Kata Singa, "yah, engkau benar, tapi kesalahanmu bukan karena itu. Kesalahanmu adalah karena engkau berdebat dengan KELEDAI". _______ Kisah di atas tidaklah nyata, hanya fiksi belaka. Maka jangan tanyakan, peristiwa itu terjadi di hutan mana. Sekali lagi, itu hanya fiksi. Kendatipun fiksi, namun pesan dan nilai yang ingin disampaikannya, bukanlah fiksi. Dalam menyimak kisah-kisah fiksi, fokus perhatian bukan pada kisah kefiksiannya, tapi pada pesan dan nilai yang ingin disampaikan. Sebab pesan dan nilai, adalah realit...

PENGECAMAN, PENGHINAAN Hingga PENGKHIANATAN

Mengecam Mr. Macron bukan berarti membenarkan prilaku pemenggal kepala yang memenggal atas nama bela Nabi Islam. Mengecam pemenggal kepala bermotif bela Nabi, bukan berarti membenarkan perbuatan guru yang membuat karikatur Nabi atas nama kebebasan berekspresi. Sebagai wujud cinta pada Sang Nabi, selain mengecam Mr. Macron dan pembuat karikatur Nabi, kita juga perlu mengecam pemuda Muslim si pemenggal kepala. Karikatur Nabi, itu penghinaan. Mrs Macron berwajah kera, itu jg penghinaan. Apa jadinya, bila setiap PENGHINAAN, terlebih penghinaan personal, dibalas dengan PEMENGGALAN. Mungkin, yang membuat gambar Mrs. Macron berwajah kera ingin berikan pelajaran pada Mr. Macron tentang bagaimana rasanya dihina, dan bahwa menghina atas nama kebebasan berekspresi itu buruk. Tapi apa jadinya, bila setiap penghinaan harus dibalas dengan pemenggalan. Apakah si pembuat gambar Mrs. Macron berwajah kera juga perlu dipenggal, supaya dia tahu bahwa menghina itu menyebabkan nyawa melayang, dan agar dia m...

MAULID NABI

  Di bulan maulid, pamplet tentang tidak adanya sahabat yang merayakan maulid Nabi, wara-wiri di medsos. Tentu, ini adalah kampanye anti maulid, dan pembid'ahan maulid. Dikiranya, semua hal mesti dilakukan oleh sahabat nabi terlebih dahulu, baru kita-kita boleh melakukannya. Padahal ada banyak hal yang telah kita lakukan, sementara sahabat nabi tak pernah melakukannya. Dan itu, sah-sah saja, tak melanggar syariat. Dipikirnya, semua yang dilakukan sahabat nabi, itu baik. Dan semua yang tidak dilakukan sahabat nabi, itu buruk. Padahal, tidak semua yang dilakukan sahabat nabi, itu baik. Dan tidak semua yang tidak dilakukan sahabat nabi, itu buruk. Sahabat nabi saling tikai, itu buruk. Tatkala terdengar suara pedagang musiman, jemaah berhamburan keluar mesjid, meninggalkan nabi yang sedang khutbah jum'at. Tentu, ini contoh yang buruk, dan diabadikan Tuhan dalam surah al-jumu'ah ayat 11. Di sisi yang lain, sahabat nabi tidak bermedsos, tidak mandi dua kali sehari, tidak ada acar...