MAULID NABI
Di bulan maulid, pamplet tentang tidak adanya sahabat yang merayakan maulid Nabi, wara-wiri di medsos. Tentu, ini adalah kampanye anti maulid, dan pembid'ahan maulid.
Dikiranya, semua hal mesti dilakukan oleh sahabat nabi terlebih dahulu, baru kita-kita boleh melakukannya. Padahal ada banyak hal yang telah kita lakukan, sementara sahabat nabi tak pernah melakukannya. Dan itu, sah-sah saja, tak melanggar syariat.
Dipikirnya, semua yang dilakukan sahabat nabi, itu baik. Dan semua yang tidak dilakukan sahabat nabi, itu buruk. Padahal, tidak semua yang dilakukan sahabat nabi, itu baik. Dan tidak semua yang tidak dilakukan sahabat nabi, itu buruk.
Sahabat nabi saling tikai, itu buruk. Tatkala terdengar suara pedagang musiman, jemaah berhamburan keluar mesjid, meninggalkan nabi yang sedang khutbah jum'at. Tentu, ini contoh yang buruk, dan diabadikan Tuhan dalam surah al-jumu'ah ayat 11.
Di sisi yang lain, sahabat nabi tidak bermedsos, tidak mandi dua kali sehari, tidak ada acara wisuda dan tidak-tidak yang lainnya, dan semua itu belum tentu buruk.
Perayaan maulid itu ekspresi syukur atas kelahiran nabi termulia. Anak sendiri yang lahir aja, kita melakukan ekspresi syukur. Dari ekspresi yang terkecil semisal senyum, menangis haru, mengucapkan hamdalah, hingga mengundang tetangga tuk makan-makan.
Lah ini, yang lahir adalah manusia termulia sejagat raya. Bagaimana bisa kupendam rasa syukur ini dan tidak mengekspresikannya sesuai kemampuan diri.
Mengingat jasa-jasa Rasul termulia, rasanya tak cukup sekedar mengucap syukur, baca barzanji, bagi-bagi telur atau amplop. Ingin ku ekspresikan rasa syukur maulid nabi ini dengan mengabarkannya ke seantero penjuru dunia, dan kepada setiap penghuni langit dan bumi, bahwa hari ini adalah hari kelahiran sang nabi termulia.
Jadi, tidak masalah mengekspresikan rasa syukur atas maulid nabi. Yang masalah adalah, jika anda tidak bersyukur, atau bersyukur tapi tidak mengekspresikan rasa syukur tersebut, walau sekedar menginfokannya pada orang lain, atau sebatas menyunggingkan senyum. Yang masalah, jika anda bersungut dongkol, melihat orang yang bergembira dan merayakan maulid nabi.
Walhasil, perayaan maulid itu tidak haram, tidak pula halal. Tidak merayakan maulid, juga tidak haram dan tidak halal. Haram atau halal, tergantung bagaimana anda merayakan atau tidak merayakan maulid.
Haram, bila anda merayakan maulid sembari mengecam (dan menganggap berdosa) mereka yang tidak merayakan maulid.
Haram, bila anda tidak merayakan maulid, sembari mengecam (dan menganggap berdosa) mereka yang merayakan maulid.
Enjoy aj.
@aiskndrr
#salamharmonisasi
#filsafatharmonisasi
Komentar
Posting Komentar