Harimau dan Keledai

 


Suatu ketika, keledai dan Harimau berdebat hebat ihwal warna rumput.

Kata Keledai, "rumput itu berwarna merah",

Kata Harimau, "bukan, rumput itu berwarna hijau!".


Akhirnya, harimau dan keledai dihadapkan pada Singa si Raja Hutan untuk diadili.


Setelah mendengar percakapan mereka berdua, Singa si raja hutan memutuskan,

"penjarakan Harimau!".


Harimau protes dan berkata, "bukankah aku benar bahwa rumput itu berwarna hijau?"


Kata Singa, "yah, engkau benar, tapi kesalahanmu bukan karena itu. Kesalahanmu adalah karena engkau berdebat dengan KELEDAI".

_______

Kisah di atas tidaklah nyata, hanya fiksi belaka. Maka jangan tanyakan, peristiwa itu terjadi di hutan mana. Sekali lagi, itu hanya fiksi. Kendatipun fiksi, namun pesan dan nilai yang ingin disampaikannya, bukanlah fiksi.


Dalam menyimak kisah-kisah fiksi, fokus perhatian bukan pada kisah kefiksiannya, tapi pada pesan dan nilai yang ingin disampaikan. Sebab pesan dan nilai, adalah realitas, bukan fiksi.


Dalam dunia sufi, pesan-pesan moral disampaikan dalam bingkai kisah-kisah fiksi atau dialog-dialog imaginer. Kisah Laila dan Majnun adalah salah satu diantaranya.


Maka jangan tanyakan, di mana yah rumah Majnun dan Laila, aku ingin berkunjung. Tidak ada, sebab memang hanya fiksi. Tapi, pesan dan nilai yang terkandung di dalamnya, itu tidak fiksi. Fokuslah pada nilai, jangan fokus pada kisah.


Lantas, dari kisah Harimau dan Keledai di atas, apa pesannya? Pesannya adalah, jangan berdebat sama orang bodoh yang enggan dicerahkan. Orang-orang seperti ini, walaupun disuguhkan referensi berupa literatur-literatur yang ditulis para ahli, mereka lebih memilih mendengar akal (sebenarnya syahwat) mereka.


Mereka lupa bahwa literatur yang bermutu adalah perwujudan dari akal para ahli. Para ahli mewujudkan akal mereka dalam bentuk literasi-literasi. Maka tentu, mengikuti akal para ahli yang berwujud literasi-literasi, LEBIH RASIONAL ketimbang mengikuti akal non ahli yang berwujud ocehan-ocehan.


Pesan lainnya adalah, tidak usah memaksakan kebenaran. Khususnya pada mereka yang enggan tercerahkan. Setiap orang punya hak, untuk tercerahkan atau tetap tenggelam dalam kebodohan dan fanatisme. Dan tentu, setiap hak/pilihan, punya resiko-resiko.


Lagipula, burung yang terlahir dalam sangkar, akan menduga terbang sebagai sebuah penyimpangan. Burung tersebut akan menolak ajakan setiap burung yang datang menawarkan kebebasan. Burung dalam sangkar, lebih memilih membeo pada sang tuan.


@aiskndrr


#salamharmonisasi

#filsafatharmonisasi

Komentar