Ngaji Epistemologi Husuli dan Demokrasi
Diketahui, ilmu husuli adalah ilmu yang tidak niscaya benar, tidak pula niscaya salah. Artinya, salah-benar adalah hal yang mungkin dalam ilmu husuli.
Meski demikian, kadang pula ilmu husuli menjadi mustahil salah, dikarenakan beragam faktor (mumtani'un bilghoir) semisal badihi, argumentasi rasional, dan kesucian subjek.
Jadi, ilmu husuli badihi adalah ilmu husuli yang niscaya benar. Juga, ilmu husuli yang bersandar pada argumentasi rasional, merupakan ilmu husuli yang niscaya benar. Begitu juga dengan ilmu husuli yang dimiliki oleh manusia-manusia suci, merupakan ilmu husuli yang niscaya benar.
Beda halnya dengan ilmu husuli spekulatif (nazari) yang belum terbuktikan secara rasional, serta ilmu husuli manusia biasa seperti kita-kita ini, semuanya merupakan ilmu husuli yang mungkin benar, mungkin pula salah.
Karena mungkin salah mungkin benar, maka ilmu husuli kita-kita ini mesti didialogkan, bukan dipaksakan. Mesti dievaluasi, bukan dianggap pasti.
Karena itu pula, dalam ilmu husuli spekulatif yang disampaikan oleh manusia biasa, memutlakkan pandangan adalah hal yang tidak dibenarkan.
Banyak orang yang mungkin tidak memutlakkan pandangannya dalam masalah keagamaan, demi terwujudnya toleransi. Namun dalam masalah sosial politik, oknum tersebut malah memutlakkan pandangannya. Seolah-olah, hanya pandangannya saja yang benar.
Lihat saja pihak yang dikritik itu, logika mereka adalah LOGIKA POKOKNYA. Pokoknya harus ini, ini dan ini. Celakanya, logika pokoknya juga dipakai oleh pihak yang mengkritik, pokoknya harus itu, itu dan itu. Kalau sudah pokoknya, maka tak ada lagi cabang dan rantingnya.
Padahal, baik dalam konteks keagamaan, maupun dalam konteks sosial-politik, memutlakkan pandangan adalah hal yang tidak dibenarkan. Apatahlagi jika pandangan tersebut berkaitan dengan masalah-masalah spekulatif. dan disampaikan oleh orang-orang yang non suci.
Bisalah dimutlakkan bila masalah spekulatif disampaikan oleh manusia-manusia suci. Nah ini, masalahnya sudah spekulatif, ditambah lagi, penyampainya adalah lisan-lisan yang tidak suci seperti kita-kita ini. Lah untuk apa dimutlakkan dan dipaksakkan. Ayolah kita dialogkan, lalu simpulkan.
@aiskndrr
#salamharmonisasi
#filsafatharmonisasi
Komentar
Posting Komentar