Kemustahilan Pluralitas Kebenaran
Masih seputar bahasan epistemologi. Di pembahasan sebelumnya, kita telah membahas perihal keabadian suatu kaidah, baik yang berkaitan dengan aksiologi (baik-buruk), maupun yang berkaitan dengan epistemologi (benar-salah).
Yakni, secara aksiologis, sesuatu yang baik akan baik selamanya. Yang buruk pun demikian. Dan pada epistemologi, sesuatu yang benar akan benar selamanya. Pun dengan yang salah.
Di pembahasan kali ini, kita akan membahas perihal mustahilnya dua pendapat yang saling bertentangan dari segala dimensi (kontradiktif), benar secara bersamaan. Ini yang kita sebut dengan kemustahilan pluralitas kebenaran. Bahwa kebenaran, itu hanya satu. Yaitu, yang koresponden dengan realitas.
Di antara contoh dua hal yang kontradiktif adalah pandangan Atheisme dan Theisme. Satu menegasi eksistensi Tuhan, yang lainnya mengafirmasi eksistensi Tuhan. Pertanyaannya, manakah yang benar diantara keduanya?
Dari kedua pandangan tersebut, niscaya salah satunya benar, dan yang lainnya salah. Sebab, adalah mustahil bila keduanya benar, sebagaimana mustahilnya jika keduanya salah.
Mungkin tidak masalah jika itu sebatas asumsi. Masalahnya adalah, jika asumsi tersebut diobjektifikasi. Pasalnya, realitas itu sendiri yang menegasi kontradiksi. Sehingga di realitas, mustahil Tuhan itu ada (theisme), sekaligus tiada (atheisme).
Dengan ini, dari dua pandangan yang saling kontradiksi, mustahil mengafirmasi atau menegasi keduanya. Mau tidak mau, kita mesti memilih satu dari keduanya. Mengafirmasi keberadaan Tuhan, berarti menegasi ketiadaan-Nya. Sebaliknya, mengafirmasi ketiadaan Tuhan, berarti menegasi ketiadaan-Nya.
@aiskndrr
#salamharmonisasi
#lyceumphilosophia
#bagendaali
Komentar
Posting Komentar