Netral, Abstain dan Apatis

 

Sekilas, ketiganya tampak semakna. Namun hakikatnya, berbeda makna. Netral berada dalam tahapan analisa terhadap ragam informasi/peristiwa. Jika informasi/peristiwa telah jelas salah-benar atau baik-buruknya, tetap netral tidaklah diindahkan.


Abstain yakni tidak memberikan suara yang disebabkan oleh ketiadaan analisa, atau analisa yang tidak berbuah hasil. Orang yang abstain adalah mereka yang tidak memihak karena masih ragu (belum tahu mana benar-salah, dan mana baik-buruk)..


Yakni, kadang kita abstain karena kita belum melakukan analisa. Kadang pula, kita menganalisa (tentu secara netral), namun kita tetap abstain lantaran analisa kita belum berbuah konklusi. Karena tak ada konklusi, maka timbullah keraguan. Karena ragu, maka abstain adalah pilihan bijak.


Analisa yang berbuah konklusi akan melahirkan sikap memihak-tidak memihak. Entah itu memihak salah satunya, memihak semuanya (karena semuanya dianggap benar/baik), atau tidak memihak pada semuanya (karena semuanya dianggap salah/buruk), ini semua adalah tahap setelah analisa, ia bukan netral bukan pula abstain.


Sederhananya, netral adalah tahap konsepsi (tasawwur). Memihak atau tidak memihak adalah tahap judgmentasi (tashdiq). Adapun abstain adalah tahap ketiadaan tashdiq.


Bagaimana dengan apatis. Apatis adalah tidak memberikan suara yang disebabkan oleh acuh dan sikap masa bodoh. Apatis adalah keengganan untuk ikut pusing. Ia tidak ingin mengonsepsi, terlebih lagi menashdiq. "Terserahlah apa yang terjadi, saya sih cuek aj", ini apatis.


Walaupun sama-sama tidak memberikan suara, namun abstain dan apatis tidaklah sama. Abstain adalah kepedulian. Sementara apatis adalah ketidakpedulian. Abstain tidak memberikan suara lantaran belum ada pengetahuan yang cukup. Apatis tidak memberikan suara karena memang tidak ingin memberikan suara, tidak ingin mencari tahu, dan tidak ingin melibatkan diri.


Dibutuhkan bashirah untuk memutuskan; kapan harus terlibat dan kapan harus tidak terlibat. Kapan apatis dan kapan ikut pusing.


Jika memutuskan tuk apatis, maka tak perlu ada analisa dan semua tahap setelahnya. Tidak selamanya apatis itu buruk. Justru kadang, kita harus apatis pada hal-hal receh yang seharusnya memang tidak diributkan.


Tapi jika memutuskan tuk ikut pusing, maka akan ada tahap analisa yang bersyarat netral. Jika analisa menghasilkan konklusi, maka tahap selanjutnya adalah memihak atau tidak memihak. Namun jika analisa tidak menghasilkan konklusi, maka tahap selanjutnya adalah abstain.


Walhasil, apapun itu, ikut memikirkan sesuatu atau tidak ikut memikirkannya, perlu dipikirkan baik-baik.


@aiskndrr

#salamharmonisasi

#filsafatharmonisasi

Komentar