NETRALITAS FILOSOF (2)

 


Dalam bukunya, totem parasti, Syari'ati menulis;

"Akan kubutakan mataku, kutulikan telingaku, kupatahkan kakiku, kupotong-potong jemariku, kubelah dadaku, kubunuh hatiku. Bahkan, akan kupotong lidahku, dan kujahit mulutku. Tapi, PENAKU tidak akan pernah kuserahkan pada YANG ASING (bigoneh)".


Yang dimaksud Syari'ati dengan kata "yang asing", tentu bukan orang asing. Ali Syari'ati bukan seorang rasis yang begitu benci pada orang asing dan semua hal yang berbau asing atau aseng. Ali Syari'ati adalah pejuang humanis transenden.


Olehnya itu, "yang asing" mesti dimaknai dengan yang asing dari kemanusiaan, atau yang kontra dengan nilai-nilai kemanusiaan. Ali Syari'ati lebih memilih menanggung beragam derita fisik, daripada harus tunduk pada kesalahan.


Artinya, Ali Syari'ati komitmen untuk tidak akan menulis sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Apatah lagi menjadi mesin tik para penjajah kemanusiaan, yang melanjutkan misi pembodohan dengan tulisan.


Semua ini adalah cerita keberpihakan pada kebenaran. Seperti yang kita bahas sebelumnya, dalam ranah teoretis, filosof mesti memihak pada kebenaran. Filosof mesti menulis berdasarkan kebenaran, bukan berdasarkan selera netizen. Dan itulah wujud dari cinta pengetahuan/kebijaksanaan, bukan cinta pujian.


Dalam ranah praktis, pun demikian. Filosof mesti memihak pada kebaikan. Dunia adalah pertarungan kebenaran dan kebatilan. Dalam diksi Syari'ati, disebut dengan pertarungan habilisme dengan qabilisme. 


Dan para rausyan fikr, lanjut Syari'ati, mesti hadir dalam kontestasi tersebut dengan memihak pada habilisme. Berkenaan dengan ini, beliau menulis;


"Yang pergi (raftand, syahid), telah menjalankan perannya. Yang tinggal (mondand, hidup), mesti mengambil peran Zainabi, dengan mengabarkan nilai yang diperjuangkan para syuhada. Jika tidak, berarti mereka adalah 'Yazid'. Orang-orang yang hidup tanpa kepala". (Husain wores-e odam)


Walhasil, dalam pentas teoretis (kebenaran-kesalahan), dan juga pentas praktis (kebaikan-keburukan), filosof mesti memihak pada nilai. Nilailah yang diperjuangkan oleh mereka yang menjunjung tinggi akal.


Namun tentu, keberpihakan adalah tahap kedua. Sebelumnya, ada tahap yang disebut dengan ANALISA. Dalam tahap analisa, NETRALITAS dibutuhkan.


Yakni, dalam menganalisa realitas atau informasi, akal tidak boleh dipengaruhi oleh rasa, semisal sentimen iman, ras dan semacamnya. Dalam bahasa penomenologi, biarkan realitas yang menjelaskan dirinya.


Saat itu, ada kemungkinan kita akan berkata salah atau buruk, pada teman seiman. Dan berkata benar atau baik, pada mereka yang tak seiman. Sebab memang, neraca kebenaran bukan seiman, tapi korespondensi dengan realitas yang dibuktikan dengan argumentasi rasional.


@aiskndrr

#filsafatharmonisasi

#salamharmonisasi

Komentar