PELAJARAN AKHLAK KABURO MAQTAN

 


Sering kita mendengar ucapan; untuk apa menasehati orang lain, jika diri sendiri belum baik. Tak jarang, kita mencibir para penasehat yang dia sendiri belum baik dengan berkata, halah sok menasehati, kamu sendiri belum baik. Bahkan kita tambah, urus dirimu sendiri dan bla, bla, bla, sembari menghujaninya dengan ayat kaburo maqtan 'indallahi...(ash-shof: 3)


Sejujurnya, mengikuti pola pikir di atas, maka hilanglah prinsip nasehat-menasehati atau saling menasehati. Sebab, hanya yang sepenuhnya baik saja, alias manusia suci, yang berhak menasehati.


Berkenaan dengan ini, saya ingin sampaikan beberapa hal berikut.


Pertama

Nasehat-menasehati itu bukan hak, tapi kewajiban setiap insan yang mencintai kebaikan bersama. Dan juga, merupakan salah satu wujud cinta.


Kedua

Selain manusia suci, setiap kita memiliki dimensi keburukan. Tapi hidup, bukan tentang melakukan keburukan atau tidak. Hidup adalah tentang upaya meninggalkan keburukan.


Ketiga

Boleh jadi, seseorang sangat buruk pada satu kasus, tapi juga sangat baik pada kasus lain. Dalam menilai, hindari over generalisasi. Jangan mengecam/memujinya dengan amat sangat.


Keempat

Setiap kita memiliki dimensi baik dan buruk. Mustahil bila kita hanya baik tanpa keburukan, atau buruk tanpa kebaikan. Maka, jangan nasihati orang lain untuk menjauhi keburukan YANG MASIH anda lakukan.


Nasihatilah mereka untuk menjauhi keburukan YANG TIDAK anda lakukan, atau yang anda upayakan agar tidak melakukannya lagi. Dengan begitu, anda terhindar dari kaburo maqtan.


Kelima

Jangan mengejek/mengecam seseorang yang menasihati orang lain, hanya karena anda tahu bahwa ia sendiri masih melakukan keburukan. Karena boleh jadi, nasihatnya pada orang lain berkaitan dengan keburukan2 yang tidak ia lakukan, atau yang ia upayakan untuk tidak melakukannya lagi


Keenam

Saling menasehati adalah kewajiban setiap kita. Bahkan, jika kita sendiri masih melakukan keburukan, kita masih wajib menasehati orang lain agar tidak melakukan keburukan yang kita pun tidak melakukannya, atau yang kita upayakan tuk tidak melakukannya lagi.


Ketujuh

Bahkan pendosa sekalipun, layak menasehati orang lain agar tidak melakukan dosa yang ia pun tidak melakukannya, atau yang ia upayakan tuk tidak melakukannya lagi.


Kedelapan

Pelacur yang tidak korupsi, layak menasehati orang lain agar tidak korupsi.


Kesembilan

Koruptor yang tidak melacur, layak menasehati orang lain agar tidak melacur.


Kesepuluh

Pelacur yang berupaya tuk tidak lagi melacur, layak menasehati orang lain agar tidak melacur.


Terakhir

Jangan mengecam orang atas keburukan yang dilakukannya di malam hari. Sebab boleh jadi, di pagi hari, keburukannya telah termaafkan, sedang anda melakukan keburukan lantaran mengecam pelaku keburukan yang telah terampuni.


@aiskndrr


#salamharmonisasi

#filsafatharmonisasi

Komentar